Lentera Cafe
Ini adalah bisnis pertama saya. Sempat berjalan satu tahun dan berakhir sukses. Yaaa, sukses tutup. Namun, ini adalah salah satu bagian dari lentera hidup saya. Karenanya saya banyak melihat, mendengar dan merasa. Ini adalah salah satu ikhtiar yang memberi banyak pengalaman yang berharga.
Sebelumnya pada tahun 2006, saya juga pernah mencoba berbisnis. Bermodal kemauan, saya menerima ajakan teman untuk bergabung di beberapa bisnis multi level marketing. Hanya ada kemauan bergabung tetapi tidak ada keberanian menjalankan. Saya belum percaya diri untuk berhadapan dengan calon konsumen. Sehingga kartu member bisnis MLM tersebut, hanya sebagai pemanis dompet saja.
Memasuki tahun 2011, saya berkeinginan kembali untuk mempunyai bisnis. Terlintas di pikiran untuk memulai bisnis kuliner. Menurut saya, bisnis kuliner adalah bisnis sepanjang masa. Bisa dimulai dengan modal minim. Walaupun tidak mempunyai kapabilitas di bidang itu, tetapi keinginan yang begitu kuat menjadi motivasi bagi saya untuk berani memulainya.
Alasan terbesar untuk memiliki usaha adalah karena saya tidak ingin menjadi beban orang tua. Sebagai seorang single parent, saya mempunyai keinginan untuk bisa menafkahi diri dan anak semata wayang. Namun karena orang tua mempunyai harapan agar saya bisa menjadi seorang dosen, saya harus melanjutkan pendidikan S2 dengan biaya dari orang tua.
Saya coba mengutarakan keinginan kepada orang tua untuk kuliah sambil usaha. Orang tua tidak memberi izin. Anggapan usaha akan mengganggu kelancaran kuliah, mereka juga tidak ingin saya terbebani dan juga akan banyak resiko yang akan dihadapi.
Perlahan-lahan saya beri pengertian kepada orang tua. Apapun yang akan dijalani dalam hidup ini pasti ada resiko. Jika menjalankannya sesuai keinginan hati, apapun rintangannya pasti bisa dihadapi dengan lapang hati.
Ini adalah bukti Law of Attraction. Apa yang saya pikirkan dan impikan, seakan alam mendukung dan mengaminkan. Allah swt memberi jalan dan kemudahan.
Saya dipertemukan kembali dengan teman lama yang sudah seperti saudara. Mungkin karena sevibrasi. Kami sepakat untuk membangun bisnis kuliner. Saat itu modal kami hanya kemauan dan keberanian.
Lagi-lagi Allah memudahkan jalan. Saya dipertemukan dengan teman lain yang mempunyai usaha warnet. Dia menyewa tempat yang lumayan besar. Sebagian dijadikan warnet dan sebagian kosong.
Singkat cerita, kami sepakat untuk join mendirikan usaha Lentera Cafe. Saya dan kakak di bagian operasional dan teman saya di bagian marketing. Usaha ini berjalan 2 semester. Di akhir tahun, usaha terpaksa kami tutup. Laba habis untuk makan sehari-hari dan operasional harian. Kami tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sewa. Kami sadar bahwa kami harus banyak belajar lagi, karena pengetahuan bisnis sangat berperan untuk keberlangsungan bisnis.
Akhirnya Lentera Cafe ini sukses tutup. Walaupun demikian, bagi saya Lentera Cafe tetaplah menjadi sebuah penerangan. Saya sebelumnya dicap sebagai anak manja, tidak mandiri, malu untuk berjualan, dan tidak punya pengalaman berbisnis. Bersama Lentera Cafe saya banyak belajar, mendengar dan merasakan bagaimana menjadi seorang pengusaha. Bagi saya ini adalah sebuah anak tangga yang harus saya lewati untuk mencapai ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini saya belajar bagaimana membagi waktu antara kuliah dan mengelola usaha. Saya belajar memasak, memilih menu dan bahan baku, belanja ke pasar, melayani konsumen. Saya juga belajar bagaimana menyatukan pendapat serta saling menekan ego dengan partner-partner saya.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah....
Pertama: "Sejatinya keberhasilan adalah kemampuan melewati kegagalan dengan baik. Keberhasilan yang bagaimana? Keberhasilan ketika kamu mampu melewati kegagalan dengan jiwa tetap semangat dan bisa mengambil pelajaran dari setiap kegagalan. Dengan demikian hal itu akan memberikan hasil yang lebih baik untuk usaha berikutnya."
Kedua: "Untuk menjadi sukses, hasratmu akan kesuksesan harus lebih besar daripada ketakutanmu akan kegagalan. Oleh karena itu, milikilah keberanian untuk mengejarnya".
by Aulia Devi Yanti
