Minggu, 29 Maret 2020




Lentera Cafe

Ini adalah bisnis pertama saya. Sempat berjalan satu tahun dan berakhir sukses. Yaaa, sukses tutup. Namun, ini adalah salah satu bagian dari lentera hidup saya. Karenanya saya banyak melihat, mendengar dan merasa. Ini adalah salah satu ikhtiar yang memberi banyak pengalaman yang berharga.

Sebelumnya pada tahun 2006, saya juga pernah mencoba berbisnis. Bermodal kemauan, saya menerima ajakan teman untuk bergabung di beberapa bisnis multi level marketing. Hanya ada kemauan bergabung tetapi tidak ada keberanian menjalankan. Saya belum percaya diri untuk berhadapan dengan calon konsumen. Sehingga kartu member bisnis MLM tersebut, hanya sebagai pemanis dompet saja.

Memasuki tahun 2011, saya berkeinginan kembali untuk mempunyai bisnis. Terlintas di pikiran untuk memulai bisnis kuliner. Menurut saya, bisnis kuliner adalah bisnis sepanjang masa. Bisa dimulai dengan modal minim. Walaupun tidak mempunyai kapabilitas di bidang itu, tetapi keinginan yang begitu kuat menjadi motivasi bagi saya untuk berani memulainya.

Alasan terbesar untuk memiliki usaha adalah karena saya tidak ingin menjadi beban orang tua. Sebagai seorang single parent, saya mempunyai keinginan untuk bisa menafkahi diri dan anak semata wayang. Namun karena orang tua mempunyai harapan agar saya bisa menjadi seorang dosen, saya harus melanjutkan pendidikan S2 dengan biaya dari orang tua.

Saya coba mengutarakan keinginan kepada orang tua untuk kuliah sambil usaha. Orang tua tidak memberi izin. Anggapan usaha akan mengganggu kelancaran kuliah, mereka juga tidak ingin saya terbebani dan juga akan banyak resiko yang akan dihadapi.

Perlahan-lahan saya beri pengertian kepada orang tua. Apapun yang akan dijalani dalam hidup ini pasti ada resiko. Jika menjalankannya sesuai keinginan hati, apapun rintangannya pasti bisa dihadapi dengan lapang hati.

Ini adalah bukti Law of Attraction. Apa yang saya pikirkan dan impikan, seakan alam mendukung dan mengaminkan. Allah swt memberi jalan dan kemudahan.

Saya dipertemukan kembali dengan teman lama yang sudah seperti saudara. Mungkin karena sevibrasi. Kami sepakat untuk membangun bisnis kuliner. Saat itu modal kami hanya kemauan dan keberanian.

Lagi-lagi Allah memudahkan jalan. Saya dipertemukan dengan teman lain yang mempunyai usaha warnet. Dia menyewa tempat yang lumayan besar. Sebagian dijadikan warnet dan sebagian kosong.

Singkat cerita, kami sepakat untuk join mendirikan usaha Lentera Cafe. Saya dan kakak di bagian operasional dan teman saya di bagian marketing. Usaha ini berjalan 2 semester. Di akhir tahun, usaha terpaksa kami tutup. Laba habis untuk makan sehari-hari dan operasional harian. Kami tidak mempunyai dana untuk melanjutkan sewa. Kami sadar bahwa kami harus banyak belajar lagi, karena pengetahuan bisnis sangat berperan untuk keberlangsungan bisnis.

Akhirnya Lentera Cafe ini sukses tutup. Walaupun demikian, bagi saya Lentera Cafe tetaplah menjadi sebuah penerangan. Saya sebelumnya dicap sebagai anak manja, tidak mandiri, malu untuk berjualan, dan tidak punya pengalaman berbisnis. Bersama Lentera Cafe saya banyak belajar, mendengar dan merasakan bagaimana menjadi seorang pengusaha. Bagi saya ini adalah sebuah anak tangga yang harus saya lewati untuk mencapai ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini saya belajar bagaimana membagi waktu antara kuliah dan mengelola usaha. Saya belajar memasak, memilih menu dan bahan baku, belanja ke pasar, melayani konsumen. Saya juga belajar bagaimana menyatukan pendapat serta saling menekan ego dengan partner-partner saya.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah....
Pertama: "Sejatinya keberhasilan adalah kemampuan melewati kegagalan dengan baik. Keberhasilan yang bagaimana? Keberhasilan ketika kamu mampu melewati kegagalan dengan jiwa tetap semangat dan bisa mengambil pelajaran dari setiap kegagalan. Dengan demikian hal itu akan memberikan hasil yang lebih baik untuk usaha berikutnya."
Kedua: "Untuk menjadi sukses, hasratmu akan kesuksesan harus lebih besar daripada ketakutanmu akan kegagalan. Oleh karena itu, milikilah keberanian untuk mengejarnya".

by Aulia Devi Yanti

Kamis, 26 Maret 2020

Mental dan Pengetahuan





Ini adalah saya 7 tahun yang lalu. Memasuki usia 29 tahun saya mencoba bangkit setelah 2x gagal dalam bisnis (akan saya share di lain cerita). Saya mengikuti sebuah seminar dan workshop bisnis dalam upaya saya untuk mempersiapkan mental dan pengetahuan saya menjadi lebih baik.

Kenapa penting kesiapan mental dan pengetahuan? Karena ini adalah satu kesatuan yang menjadi energi setiap orang dalam menggapai impiannya. Jika hanya memiliki mental tanpa pengetahuan, ibarat kapal tanpa nahkoda. Dia akan terombang ambing tanpa arah. Begitu juga sebaliknya, adanya pengetahuan tanpa kesiapan mental, maka bisa jadi dia akan undur diri dari medan perang sebelum perjuangan selesai.

Banyak orang berdoa kepada Tuhan untuk meminta kesuksesan, kekayaan, penghasilan lebih besar, jenjang karir atau bisnis yang bagus. Namun ketika Tuhan ingin memberi, terkadang orang tersebut belum siap menerima apa yang dia minta. Dia seringkali tidak siap dalam membenahi dirinya untuk menerima berkah dari Tuhan. Dia masih belum ada keberanian untuk berjuang dan terkadang masih memiliki kebiasaan buruk seperti menunda, mencari alasan, mengeluh bahkan menyalahkan orang lain. Dia belum siap menerima pemberian Tuhan baik secara mental maupun pengetahuan.

Pada saat saya menjalankan usaha sebelumnya, saya memulainya hanya dengan modal kemauan dan keberanian. Namun saya masih belum punya keyakinan untuk sukses, karena saya sadar bahwa saya masih kurang pengetahuan akan bisnis. Padahal pilar utama untuk memulai bisnis adalah adanya sikap mental berupa kemauan, keberanian dan keyakinan. Setelah itu diperlukan pengetahuan bisnis sebanyak-banyaknya karena pengetahuan bisnis merupakan investasi utama dan sangat berharga untuk keberlangsungan bisnis.

Saat itu dalam kondisi kekurangan finansial, saya tetap mendaftarkan nama untuk mengikuti workshop. Belum terbayang uangnya akan saya dapatkan dari mana. Namun dengan penuh keyakinan, saya percaya bahwa Allah akan memberi jalan kepada saya.

Bagi saya ini adalah bentuk perjuangan yang harus saya selesaikan untuk mencapai impian. Di sinilah Law of Attraction bekerja. Apa yang saya pikirkan dan yakini, alam semesta mendukung. Dukungan alam semesta itu digerakkan oleh Allah swt. Dan akhir cerita saya bisa mengikuti workshop berbayar tersebut. (Mengenai Law of Attraction, saya akan share di cerita lain).

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah.... "Dalam menggapai impian, bukanlah berbicara sejauh mana kita mampu bermimpi. Tapi sejauh mana kita berusaha mewujudkannya dengan tindakan. Dan untuk mewujudkan itu semua, maka persiapkanlah mental dan pengetahuan. Mental berupa kemauan, keberanian, keyakinan. Serta milikilah pengetahuan yang akan membantumu mencapai impian tersebut....

by Aulia Devi Yanti

Minggu, 02 Februari 2020

KOLAM RASA ku

0202 2020

2 Februari 2020


Hai Kolam Rasaku? Apa kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja. Hari ini aku kembali lagi setelah sekian lama meninggalkanmu. Maafkan aku Kolam Rasaku!

Februari 2011, 9 tahun yang lalu, terakhir aku berbagi cerita denganmu. Lalu aku menghilang dan mulai berpaling. Maafkan aku Kolam Rasaku!

Kini aku sadari, bahwa aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat merindukanmu. Izinkan aku kembali! Maafkan aku Kolam Rasaku!

Aku akan selalu berbagi cerita denganmu. Aku akan selalu bersamamu. Jari jemariku akan berusaha selalu mengukir kata untukmu. Sambutlah tanganku Kolam Rasaku!



Sabtu, 26 Februari 2011

Duka di Bulan Kasih Sayang


24 February 2011


00.05
Kring… Kring...
Mataku masih tertutup ketika mengangkat handphone yang berdering di tengah malam itu.
“Hallo…!”
“Udah tidur Ni?”
“Ya Pa... Ada apa Pa?”
“Besok kuliah?”
“Iya Pa…”
”Amak udah meninggalkan kita...”
“Haaah! Inalillahi wainailaihi rojiun...”
”Besok pagi pulang sama Rahmat ya...!”
”Iya Pa....”
Air mata tak terbendung lagi mendengar berita duka ini. Terbayang wajah nenek yang biasa kami panggil Amak, telah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Hatiku seakan diremuk oleh pikiranku yang berkecamuk. Tetapi apa daya, sekalipun aku menangis darah, Amak tak akan pernah kembali lagi. Aku
ingin sekali beranjak dari kos ini dan pulang secepatnya. Tapi waktu masih menunjukan pukul 00.10 wib.

00.15
Send message...
”Mat... Jam berapa pulang besok? Bareng Uni ya Mat...”
New message...
”Besok kita berangkat jam 07.00 ya Ni...”

01.00
Mataku telah sembab dan terasa berat untuk dibuka. Tapi aku masih belum bisa tertidur. Pikiranku telah terbang ke rumah dan melihat Amak yang sedang tertidur, dikelilingi keluarga yang sedang menangis seperti aku sekarang. Tak berapa lama, aku tak sadarkan diri lagi.

07.30
”Udah lama nunggu Ni?”
”Belum lama kok Mat...”
”Ayo kita berangkat Ni!”
”Iya..”
Motor pun melaju ke arah Utara dengan kecepatan 80 km/jam. Aku ingin secepatnya menyusul pikiranku yang dari tadi malam telah berada di samping Amak.

09.00
Dari luar rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran dengan merdu. Jantung semakin berdetak kencang. Rasa sedih semakin meluap seperti akan meledak di dadaku. Ku langkahkan kakiku dengan tenaga yang tersisa menuju ke dalam rumah. Mataku langsung tertuju pada selendang putih dan kain panjang yang menutupi jenazah Amak. Ku buka selendang itu untuk mencium wajah tua yang ku sayang. Aku serasa melihat wajahnya yang sedang tidur pulas dan bermimpi indah. Aku kemudian tersadar, Amak telah meninggalkan kami. Tangisku tak tertahan lagi.
”Huuu.... huu... huu...”
”Jangan sampai kena air mata ke wajah Amak”
Aku hendak memeluk dan mencium Amak. Tapi Uncu mengingatkanku agar air mataku tidak mengenai wajah Amak. Aku pernah mendengar, apabila kita menangisi seseorang yang meninggal dunia jangan sampai air mata mengenai jenazahnya. Hal itu akan membuat arwahnya tidak tenang untuk meninggalkan kita. Aku mencoba untuk menahan diri dan beristigfar.
”Jam berapa Amak pergi Ncu? Apa Amak sakit kemaren?”
”Amak nggak ada sakit apa-apa. Amak diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk menemui-Nya.”
”Jadi gimana Ncu?”
”Pagi-pagi Uncu ke rumah bersihin lemari Amak. Memang wajah Amak sedikit sembab. Ketika Uncu tanya apa wajah Amak sakit, Amak bilang tidak. Sampai waktu Isya, Amak masih shalat seperti biasa. Bahkan sebelum tidur Amak masih sempat menghabiskan sepiring nasi. Jam 22.30 Amak keluar kamar. Amak berdiri di dekat kursi tempat Amak biasa duduk dan melihat jam. Tiba-tiba Amak jatuh pingsan. Mama dan Papa kaget lalu mengangkat Amak ke atas kursi. Amak udah mulai sesak nafas. Kemudian Mama memanggil Om dan Uncu ke belakang. Amak kami angkat ke atas mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Di atas mobil Mama menuntun Amak untuk melafazkan dua kalimat syahadat karna nafas Amak udah semakin sesak. Amak mulai menggerakkan lidahnya. Tak berapa lama Amak pergi meninggalkan kita semua dengan wajah yang damai.”

10.00
Mama dan tante-tanteku bersiap-siap untuk memandikan jenazah Amak. Aku jadi teringat ketika Amak masih hidup, Amak yang selalu memandikan semua anak-anak dan cucu-cucunya ketika masih bayi. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan lagi untuk mengungkapkan kekagumanku pada perjuangan Amak dalam merawat anak-anak dan cucu-cucunya. Dia adalah seorang Amak yang penuh kasih sayang dan perhatian. Aku yakin Allah SWT akan memberikan pahala yang berlipat atas kesabaran Amak dalam merawat dan membesarkan kami.

11.00
”Di mana Amak dishalatkan Ma?”
”Di mesjid Barin, siap-siaplah ya Ni..”
”Iya Ma..”

11.30
”Semuanya ikut ke pemakaman Nte?”
”Iya.. Semua ikut..”
”Jadi dengan ambulance dibawa?”
”Iya.. Itu ambulance udah datang”

12.00
Ambulance melaju dengan cepat seakan jalan menjadi miliknya. Beberapa mobil dan belasan motor mengiringi seperti gerbong kereta mengikuti lokomotifnya. Setengah jam kemudian, semua kendaraan telah berjejer rapi di tanah warisan yang berada di kaki gunung Merapi itu.

12.30
Semua ikut mengantar Amak ke pembaringan terakhirnya. Isak tangis pecah kembali. Walau semua sudah mengikhlaskannya, air mata duka tak berhenti membasahi pipi. Aku tahu, Amak telah tenang di peristirahatannya yang terakhir. Aku berdoa semoga Amak ditempatkan ditempat yang paling baik di sisi-Nya. Sedikit yang menghibur hatiku yaitu kepergian Amak di usianya ke-75, diberi kemudahan oleh Allah SWT tanpa ada sakit dan tak tersiksa. Yang paling penting, Amak masih bisa menjalankan kewajibannya, menunaikan shalat Isya sebelum kepergiannya dari dunia yang fana ini...



We Love You Grandma…..

Sabtu, 19 Juni 2010

Sangkar Emas

Sangkar emas

Begitu megah
Begitu indah
Tapi begitu menyiksa

Apa yang salah

Kemegahan tak menjamin kebahagiaan
Keindahan tak menjamin kedamaian

Aku melihat seekor anak burung di dalamnya

Begitu cantik
Begitu indah
Tapi dia hanya diam terpaku dengan linangan air mata di wajahnya

Apa yang salah

Kecantikan yang ia miliki tak menjamin keceriaan
Keindahan yang ia tebarkan tak menjamin kenikmatan

Apa yang telihat hanya kepalsuan
Bathinnya menderita, kecewa dan gundah
Jiwanya yang kosong tak tentu arah
Hatinya yang hampa menyiratkan kepedihan

Semua yang ada tak memberi kebahagian
Semua yang terpancar tak memberi kesempurnaan
Hanya ada rasa yang tertekan
Hanya ada pilu yang menikam

Apakah yang bisa dilakukan
Tak berkutik tak berdaya
Hanya terpaku di dalam sangkar emas itu
Menunggu keajaiban dan seberkas cahaya

Rabu, 10 Maret 2010

Kegelisahan Hati

Kelamnya langit memahami isi hatiku..
Kutersayat oleh tajamnya jarum..
Hatiku menjerit tanpa suara..
Merintih mengobati luka..

Aku tau...
Tapi rasa ini tak dapat dibendung..
Kilaunya cahaya tak dapat ku kuasai..
Entah apa yang terjadi..

Adakah satu senyumanmu itu ku miliki?
Sudikah lukisan senyumanmu itu hinggap di mataku?

Lukisan yang bisa menghapus air mata..
Menghapus kepedihan yang terdalam..