
24 February 2011
00.05
Kring… Kring...
Mataku masih tertutup ketika mengangkat handphone yang berdering di tengah malam itu.
“Hallo…!”
“Udah tidur Ni?”
“Ya Pa... Ada apa Pa?”
“Besok kuliah?”
“Iya Pa…”
”Amak udah meninggalkan kita...”
“Haaah! Inalillahi wainailaihi rojiun...”
”Besok pagi pulang sama Rahmat ya...!”
”Iya Pa....”
Air mata tak terbendung lagi mendengar berita duka ini. Terbayang wajah nenek yang biasa kami panggil Amak, telah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Hatiku seakan diremuk oleh pikiranku yang berkecamuk. Tetapi apa daya, sekalipun aku menangis darah, Amak tak akan pernah kembali lagi. Aku
ingin sekali beranjak dari kos ini dan pulang secepatnya. Tapi waktu masih menunjukan pukul 00.10 wib.
00.15
Send message...
”Mat... Jam berapa pulang besok? Bareng Uni ya Mat...”
New message...
”Besok kita berangkat jam 07.00 ya Ni...”
01.00
Mataku telah sembab dan terasa berat untuk dibuka. Tapi aku masih belum bisa tertidur. Pikiranku telah terbang ke rumah dan melihat Amak yang sedang tertidur, dikelilingi keluarga yang sedang menangis seperti aku sekarang. Tak berapa lama, aku tak sadarkan diri lagi.
07.30
”Udah lama nunggu Ni?”
”Belum lama kok Mat...”
”Ayo kita berangkat Ni!”
”Iya..”
Motor pun melaju ke arah Utara dengan kecepatan 80 km/jam. Aku ingin secepatnya menyusul pikiranku yang dari tadi malam telah berada di samping Amak.
09.00
Dari luar rumah terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran dengan merdu. Jantung semakin berdetak kencang. Rasa sedih semakin meluap seperti akan meledak di dadaku. Ku langkahkan kakiku dengan tenaga yang tersisa menuju ke dalam rumah. Mataku langsung tertuju pada selendang putih dan kain panjang yang menutupi jenazah Amak. Ku buka selendang itu untuk mencium wajah tua yang ku sayang. Aku serasa melihat wajahnya yang sedang tidur pulas dan bermimpi indah. Aku kemudian tersadar, Amak telah meninggalkan kami. Tangisku tak tertahan lagi.
”Huuu.... huu... huu...”
”Jangan sampai kena air mata ke wajah Amak”
Aku hendak memeluk dan mencium Amak. Tapi Uncu mengingatkanku agar air mataku tidak mengenai wajah Amak. Aku pernah mendengar, apabila kita menangisi seseorang yang meninggal dunia jangan sampai air mata mengenai jenazahnya. Hal itu akan membuat arwahnya tidak tenang untuk meninggalkan kita. Aku mencoba untuk menahan diri dan beristigfar.
”Jam berapa Amak pergi Ncu? Apa Amak sakit kemaren?”
”Amak nggak ada sakit apa-apa. Amak diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk menemui-Nya.”
”Jadi gimana Ncu?”
”Pagi-pagi Uncu ke rumah bersihin lemari Amak. Memang wajah Amak sedikit sembab. Ketika Uncu tanya apa wajah Amak sakit, Amak bilang tidak. Sampai waktu Isya, Amak masih shalat seperti biasa. Bahkan sebelum tidur Amak masih sempat menghabiskan sepiring nasi. Jam 22.30 Amak keluar kamar. Amak berdiri di dekat kursi tempat Amak biasa duduk dan melihat jam. Tiba-tiba Amak jatuh pingsan. Mama dan Papa kaget lalu mengangkat Amak ke atas kursi. Amak udah mulai sesak nafas. Kemudian Mama memanggil Om dan Uncu ke belakang. Amak kami angkat ke atas mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Di atas mobil Mama menuntun Amak untuk melafazkan dua kalimat syahadat karna nafas Amak udah semakin sesak. Amak mulai menggerakkan lidahnya. Tak berapa lama Amak pergi meninggalkan kita semua dengan wajah yang damai.”
10.00
Mama dan tante-tanteku bersiap-siap untuk memandikan jenazah Amak. Aku jadi teringat ketika Amak masih hidup, Amak yang selalu memandikan semua anak-anak dan cucu-cucunya ketika masih bayi. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan lagi untuk mengungkapkan kekagumanku pada perjuangan Amak dalam merawat anak-anak dan cucu-cucunya. Dia adalah seorang Amak yang penuh kasih sayang dan perhatian. Aku yakin Allah SWT akan memberikan pahala yang berlipat atas kesabaran Amak dalam merawat dan membesarkan kami.
11.00
”Di mana Amak dishalatkan Ma?”
”Di mesjid Barin, siap-siaplah ya Ni..”
”Iya Ma..”
11.30
”Semuanya ikut ke pemakaman Nte?”
”Iya.. Semua ikut..”
”Jadi dengan ambulance dibawa?”
”Iya.. Itu ambulance udah datang”
12.00
Ambulance melaju dengan cepat seakan jalan menjadi miliknya. Beberapa mobil dan belasan motor mengiringi seperti gerbong kereta mengikuti lokomotifnya. Setengah jam kemudian, semua kendaraan telah berjejer rapi di tanah warisan yang berada di kaki gunung Merapi itu.
12.30
Semua ikut mengantar Amak ke pembaringan terakhirnya. Isak tangis pecah kembali. Walau semua sudah mengikhlaskannya, air mata duka tak berhenti membasahi pipi. Aku tahu, Amak telah tenang di peristirahatannya yang terakhir. Aku berdoa semoga Amak ditempatkan ditempat yang paling baik di sisi-Nya. Sedikit yang menghibur hatiku yaitu kepergian Amak di usianya ke-75, diberi kemudahan oleh Allah SWT tanpa ada sakit dan tak tersiksa. Yang paling penting, Amak masih bisa menjalankan kewajibannya, menunaikan shalat Isya sebelum kepergiannya dari dunia yang fana ini...
We Love You Grandma…..